Pengalaman
Pertama Mendaki Gunung
Oleh : Wahyu Setiawan
Bagi
sebagian orang mendaki gunung menjadi sebuah hal yang merepotkan. Bukan tanpa alasan,
mendaki gunung tidak seperti pergi ke tempat-tempat untuk mengisi waktu
liburan pada umumnya. Mungkin untuk pergi ke tempat-tempat selain ke gunung,
kita hanya perlu menyiapkan uang secukupnya dan tentunya waktu luang. Berbeda
dengan pergi untuk mendaki gunung, tidak hanya waktu dan uang saja yang perlu untuk
disiapkan. Akan tetapi hal yang paling penting adalah mental dan pengetahuan
tentang medan atau wilayah yang akan jelajahi nantinya. Mendaki gunung
sebenarnya tidak bisa dikategorikan sebagai sebuah wisata, karena gunung
menyimpan banyak sekali resiko atau bahaya yang tidak pernah kita duga.
Misal resiko tersesat, resiko kecelakaan, bahkan mendaki gunung kita juga dapat dihadapkan pada resiko bencana alam seperti kebakaran, longsor dan pohon tumbang.
Oleh
karenanya untuk mendaki gunung tidak hanya waktu dan uang saja yang harus disiapkan,
melainkan yang lebih penting adalah mental untuk selalu berhati-hati dan
waspada. Sehingga pengetahuan akan medan atau wilayah yang akan kita jelajahi menjadi hal yang sangat penting selanjutnya. Dengan memiliki pengetahuan akan
medan kita setidaknya memiliki sedikit gambaran tentang bagaimana kondisi jalur pendakian dan juga mengetahui letak wilayah yang
bisa dikatakan berbahaya. Dengan pengetahuan semacam ini maka keamanan dan keselamatan bisa ditingkatkan. Selain itu dengan berbekal pengetahuan kita bisa memperkuat mental untuk selalu berhati-hati dan waspada. Setidaknya itu sedikit pendahulan
yang bisa aku tulis untuk memulai menceritakan pengalaman serunya saat mendaki
gunung.
Pendakian pertamaku adalah ke Gunung Panderman yang terletak di Kota Batu, Kabupaten Malang.
Pendakian ini sebenarnya bukan pendakian yang direncanakan sebelumnya. Bermula saat seorang kawan mengajakku untuk sekali-kali menjelajah gunung. Disini aku langsung mengiyakannya, karena digerakkan oleh keinginan untuk mengisi feed instagram wkwkw. Saat itu aku kira mendaki gunung tidak membutuhkan persiapan yang ribet, pikirku hanya
perlu menyiapkan uang, pakaian hangat dan transportasi. Seorang kawan yang
sudah sering mendaki, langsung tertawa setelah mengetahui isi kepalaku.
Pada
akhirnya dia menjelaskan bahwa untuk mendaki kita harus menyiapkan alat-alat
pendakian yang memadahi, mulai dari tenda, logistik (terutama air), sleeping bag, perlengkapan masak, dan
alat-alat pendakian lainnya (bisa kawan-kawan cari sendiri tulisan orang
profesional yang membahas perlengkapan pendakian). Memang lumayan ribet persiapan sebelum mendaki, namun hal ini wajib kita lakukan agar proses pendakian yang akan dilakukan bisa lancar, aman dan selamat.
Jadi sangat disarankan bagi kawan-kawan yang baru pertama mendaki
persiapkan dengan sempurna apapun yang diperlukan.
Setelah
semua dipersiapkan tiba saatnya untuk mendaki, saat itu kami berangkat pada
malam hari (sangat tidak direkomendasikan) sekitar pukul sembilan malam kami baru berangkat dari rumah ke loket pendakian. Karena jarak loket dengan rumah cukup
jauh, kami baru bisa mulai mendaki sekitar pukul sepuluh malam. Hal ini terkendala
juga oleh lokasi parkiran kendaraan yang juga cukup jauh, dari parkiran kita
harus berjalan kaki ke loket pendakian sekitar 85 menit kalau cepet. Untungnya
pada saat itu kami mendapat tumpangan dari mobil warga yang kebelulan lewat. Akhirnya pukul 10 malam kami baru jalan dari loket ke jalur pendakian.
Inilah
awal stamina kita akan konsisten dikuras oleh jalur pendakian yang terus naik.
Namanya juga mendaki gunung kalau jalurnya turun terus kan lucu wkwkwk. Pada
saat itu kondisi Benar-benar gelap, kami hanya mengandalkan cahaya dari senter
yang sudah disiapkan sebelumnya. Kami berjalan dengan jarak yang berdempetan
satu sama lainnya, hal ini kami lakukan agar cahaya senter bisa menerangi jalan
semua anggota pendakian yang jumlahnya 9 orang. Tidak hanya itu hal tersebut juga kami
lakukan agar satu sama lain bisa saling menjaga karena bagiku yang baru pertama
mendaki, kondisi saat itu terasa ekstrem. Pada proses
pendakian ini ada beberapa hal yang masih aku ingat sampai sekarang. Mulai
kejadian mistis, gak terlalu serem sih ketika di alam memang kita tidak bisa
lepas dari kejadian-kejadian seperti ini. Jadi memang ada suara yang hanya aku
dan salah seorang temanku dengar. Gimana suaranya? Tidak bisa aku tuliskan,
aneh sekali soalnya wkwkw.
Namun cobaan terberat bukan hal mistis
tersebut, melainkan ketika stamina kami benar-benar terkuras dan mental semua
anggota untuk terus kepuncak mulai anjlok. Hal ini karena waktu sudah semakin
malam dan medan jalan yang kami lalui semakin berat. Lalu di tambah dengan angin
yang menabrak
pepohonan dengan sangat kencang. Saking kencangnya bagiku yang baru pertama kali naik ke gunung, aku kira adalah suara tanah longsor wkwk. Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul satu
pagi kami masih terus berusaha mendaki sampai puncak, dengan mental dan stamina
yang sudah semakin menipis kami tekadkan untuk terus kepuncak dengan sugesti “sebentar lagi sampai, sebentar lagi sampai”
yang terus kami ucapkan sepanjang perjalanan.
Belum
cukup sampai situ ada bekas pohon tumbang yang menutup jalur pendakian. Inilah kondisi
yang menurutku benar-benar berat, kami sudah tidak bisa berpikir secara
rasional, kami merasa kapok dan ingin kembali saja. Aku hanya
berpikir “sudah ini sudah cukup, aku
tidak akan kembali lagi mendaki gunung”. Karena pikirku pohon tumbang itu
adalah tanda kalau kami salah jalur, jadi memang jalurnya seperti benar-benar
tertutup. Untungnya saat itu seorang kawan yang sudah beberapa kali mendaki
selalu memotivasi dan memberi tahu kalau jalur kami sudah benar. Dengan tenaga
habis-habisan akhirnya kami terus melanjutkannya. Setapak demi setapak jalan
kami lalui. Selangkah demi selangkah kaki kami berusa terus digerakkan untuk melangkah
naik, keyakinan untuk sampai puncak mulai kami bangun kembali. Pelan namun
pasti kami yakin puncak semakin dekat. Hingga sekitar pukul setengah 3 pagi,
seorang teman yang berada paling depan berteriak “PUNCAKKK!!!!!!” yang suaranya
bisa kami semua dengar. Setelah mendengar suara itu tenagaku seperti otomatis
kembali terisi, aku bergegas menyusul ke atas. Dan alangkah bersyukurnya saat
itu, karena pertama kali bisa menaklukkan puncak Gunung Panderman.
Setelahnya
kami mendikiran tenda, menyiapkan makan dan bergegas tidur. Sekitar 7 pagi aku
terbangun karena ada suara “klotekan” yang ternyata perlengkapan makan kami
sedang diserang oleh sekumpulan monyet yang ada dipuncak wkwk. Sekitar 9 pagi kami
turun dan melihat jalur pendakian. Sumpah kaget, ternyata kemarin malam yang
aku lewati adalah jalur curam. Jika kami sedikit saja kurang waspada apa yang
bakal terjadi pada kami, untuk itulah sangat tidak direkomendasikan mendaki
saat malam hari. Karena jalurnya tidak terlihat jelas. Terlepas dari apa yang
sudah saya alami, yang bisa dikatakan banyak tidak enaknya. Namun ternyata
justru tidak membuat saya kapok, karena pengalaman mendaki gunung tidak akan
pernah dirasakan ditempat lain. Dimana kekompakan, persaudaraan, kerja sama,
dan uang yang tidak mempunyai kegunaan hanya bisa aku rasakan ketika mendaki
gunung. Dari awal pendakian ke Panderman ini, berlanjut ke pendakian lain. Juli lalu baru saja
menyelesaikan pendakian ke Gunung Buthak perjalanan sekitar 7-9 jam tergantung
kecepatan mendaki. Dan Insya Allah rencana ke depan akan ke Gunung Semeru. Terimakasih
sudah membaca artikel ini, semoga walaupun sedikit bermanfaat bagi semua
pembaca.
Komentar
Posting Komentar