Wanita dan Kontrasepsi
Oleh : Wahyu Setiawan
Deskripsi :
Foto E.S. seorang ibu yang memiliki dua
orang anak, waktu hamil anak kedua beliau disalahkan oleh sang suami karena
tidak mengikuti program KB (foto penulis,
23 Oktober 2018)
Sebagai sebuah negara, Indonesia masih
memiliki banyak permasalahan yang mesti diselesaikan. Salah satu permasalahan
yang ada adalah masalah kepadatan penduduk, sebagai akibat dari membludaknya
angka kelahiran. Berdasarkan data BKKBN (2007 dalam Prabowo & Sari, 2011)
jumlah penduduk Indonesia sekitar 224,9 juta jiwa dan menempati posisi ke-4
setelah Cina, India dan Amerika Serikat sebagai negara yang memiliki penduduk
terpadat di dunia. Salah satu upaya pemerintah untuk mengatasi permasalahan
tersebut adalah dengan diadakannya program KB (Keluarga
Berencana) bagi seluruh keluarga yang ada di Indonesia. Fokus dari program ini
adalah mengontrol jumlah kelahiran dalam satu keluarga, sehingga tercapai
jumlah kelahiran ideal yang nantinya diharapkan dapat menciptakan keluarga
kecil yang sejahtera dan berkualitas (Hanafi, 2010) .
Kontrol
kelahiran dalam program KB tersebut dilakukan dengan cara menyediakan berbagai
alat kontrasepsi bagi pasangan suami-istri. Akan tetapi yang menjadi permasalahan
disini adalah macam metode atau alat kontrasepsi yang tidak seimbangan antara
pria dengan wanita, yang mana metode atau alat kontrasepsi yang ditujukan untuk
wanita lebih banyak dibandingkan dengan pria. Sejauh yang penulis pahami metode
kontrasepsi untuk pria hanya ada tiga jenis yakni pemakaian kondom, metode
vasektomi (kontap pria) dan metode senggama terputus. Sedangkan metode
kontrasepsi untuk wanita lebih banyak seperti penggunaan pil KB, metode suntik
KB, implan (norplant/susuk), spiral atau IUD (Intra Uterine Device), dan tubektomi (Handayani, 2018) .
Selanjutnya
bisa dikatakan bahwa metode atau alat kontrasepsi tersebut merupakan sebuah
bentuk teknologi yang digunakan untuk mengontrol kelahiran. Teknologi kontrasepsi
ini kemudian penulis anggap sebagai teknologi yang bias gender, dalam artian
seakan-akan hanya dikhususkan bagi kelompok jenis kelamin tertentu. Hal ini
dibuktikan dengan banyaknya alat atau metode kontrasepsi yang ditujukan bagi
kaum wanita, sehingga wanita seperti menjadi subjek yang bertanggung jawab atas
kontrol kelahiran di Indonesia. Menurut penulis kondisi teknologi yang semacam
itu pada akhirnya juga membentuk pengetahuan di masyarakat bahwa KB adalah urusan
wanita dan pria tidak perlu untuk berperan. Padalan untuk menunjang
keberhasilan program KB seharusnya andil pria dan wanita sama-sama saling
dibutuhkan. Hal ini kemudian dapat dibuktikan dengan rendahnya pasrtisipasi
pria dalam program Keluarga Berencana. Berdasarkan data BKKBN (2011 dalam Surinari,
Mayuni, & Putra 2015) menunjukkan prevelensi KB di Indonesia adalah 75,8%,
yakni 74,2 % diantaranya adalah akseptor wanita dan hanya 1,6% adalah akseptor
pria.
Dalam program KB bukan hanya
teknologi kontrasepsi saja yang kemudian bias gender, lebih jauh penulis juga
menemukan bahwa teknologi informasi online yang menyediakan info-info program
KB juga bias gender (walaupun tidak semuanya). Hal ini terlihat dari beberapa
portal berita online, misal detikcom dan Viva.co.id. Terkait program KB kedua
portal berita tersebut lebih condong menempatkan wanita sebagai pihak yang harus menggunakan alat kontrasepsi
dibanding dengan pria. Misalnya dalam portal berita Viva.co.id, hal pertama
yang terlihat mencolok adalah logo utama yang ditampilkan yakni adanya gambar
wanita tidur dengan keterangan alat kontrasepsi dibawahnya. Secara tidak
langsung tampilan tersebut telah menjadikan wanita sebagai objek yang
seakan-akan harus menggunakan alat kontrasepsi. Kemudian untuk portal berita detikcom,
berita-berita yang ditampilkan juga fokus membahas hal-hal yang hanya berkaitan
dengan wanita seputar pemakaian alat kontrasepsi. Berikut adalah tampilan
portal berita yang sudah penulis jelaskan sebelumnya:
Gambar 1. Tampilan Informasi Portal Berita
Sumber : (detikcom, 2018) & (Viva.co.id,
2018)
Dengan sedikit penjelasan diatas penulis
kemudian mengambil kesimpulan bahwa teknologi yang berkaitan dengan kontrasepsi
ataupun KB tidak humanis. Demikian
karena teknologi yang ada masih bias gender, artinya hanya menyasar kelompok
jenis kelamin tertentu yakni wanita. Untuk itu penulis mempunyai sedikit saran
agar teknologi KB ini bisa lebih humanis bagi
semua jenis kelamin. Pertama adalah menciptakan kesadaran bagi kedua kelompok
yakni pria dan wanita bahwa kontribusi keduanya dalam program KB itu penting. Penciptaan
kesadaran dapat melalui sosialisasi yang konsisten bagi kedua kelompok
tersebut, baik sosialisasi dari pemerintah khususnya BKKBN maupun sosialisasi
dari pihak lain yang sudah memiliki pengetahuan dan kesadaran terkait hal
tersebut. Kedua menciptakan ruang komunikasi bagi pembuat teknologi dengan
objek teknologi, agar teknologi KB (kontrasepsi) tidak menimbulkan ketimpangan
gender seperti yang terjadi sekarang. Penciptaan ruang komunikasi dapat melalui
pembuatan forum-forum diskusi, baik forum diskusi online melalui media komunikasi
dan informasi maupun forum diskusi secara langsung seperti rapat pertemuan antara
pembuat teknologi dengan objek dari teknologi tersebut. Terakhir lebih berfokus
pada teknologi informasi, maka hal yang dapat dilakukan adalah mengupload
artikel-artikel terkait dengan kontrasepsi yang menunjukkan porsi yang sesuai
antara pria dan wanita. Jadi informasi ataupun simbol-simbol yang ditunjukkan
tidak hanya terfokus pada salah satu jenis kelamin tertentu, dalam hal
pemakaian alat kontrasepsi.



Komentar
Posting Komentar