Broken Home
Oleh :
Wahyu Setiawan
Istilah broken
home mungkin sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Mungkin secara sederhana
saya bisa mengartikan broken home sebagai
suatu kondisi yang bisa dikatakan tidak sehat pada lingkungan keluarga.
Dianggap tidak sehat karena lingkungan keluarga yang seharusnya dapat menjadi
tempat paling nyaman dan aman, malah berubah menjadi tempat yang bisa dibilang
penuh dengan tekanan. Dari tekanan batin sampai tekanan fisik seperti kekerasan
dalam keluarga. Saya tertarik membahas broken
home karena kondisi ini sering kali saya alami dilingkungan keluarga.
Dari mini pengamatan, broken home yang sedang menimpa keluarga saya bisa diasumsikan
terjadi karena belum siapnya saudara-saudara (kakak) mengatur keluarga yang
telah ditinggalkan oleh kedua orang tua. Sehingga anggota keluarga yang
seharusnya dapat menjadi panutan oleh adik-adiknya, sering kali mengedepankan
ego asing-masing untuk menyelesaikan permasalahan. Hal semacam ini kemudian membuat
kondisi keluarga menjadi tidak kondusif, karena sering terjadinya pertengkaran
antara kakak laki-laki dan kakak perempuan. Ini hanya sebagai contoh saja,
karena tujuan tukisan ini tidak untuk itu.
Kembali pada pembahasan, sebagaimana yang sudah
saya contohkan bahwa broken home
tercipta dari ketidaksiapan anggota keluarga dalam memanajemen konflik. Akan
tetapi lahirnya broken home juga
dapat timbul dari adanya perpisahan yang dilakukan oleh pilar keluarga yakni antar seorang
ayah dan istrinya. Karena alasan tertentu kedua pilar keluarga yang seharusnya
dapat menyelesaiakan sebuah permasalahan secara bersama-sama, lebih memilih
menyelesaikannya dengan perpisahan. Dampak dari perpisahan ini kemudian
mempengaruhi kondisi kehidupan dari anggota keluarga lainnya, terutama
anak-anak.
Hak afeksi anak-anak yang sebenarnya mesti
didapatkan menjadi menghilang. Walaupun tidak menghilang sepenuhnya, namun
ketika salah satu pilar keluarga lebih memilih untuk tinggal bersama pasangan
barunya atau anak-anak diajak untuk meninggalkan salah satu pilar, tentunya
afeksi yang diterima oleh anak-anak menjadi tidak lengkap alias cacat. Inilah
yang kemudian menjadikan anak-anak mencari rasa kasih sayang “semu” lewat
pergaulan teman sebaya. Untung-untung jika lingkungan pergaulan bisa
mengarahkan mereka menjadi lebih baik, akan tetapi menjadi sangat fatal ketika
lingkungan pergaulan tersebut malah menjerumuskan mereka ke hal-hal yang
cenderung negatif. Lingkungan pergaulan yang menjerumuskan inilah yang seringkali
menciptakan kasus-kasus dengan label “kenakalan remaja”.
Memang broken
home bukan kondisi yang diingkan bagi setiap keluarga. Akan tetapi jika anggota
keluarga tidak mampu memanajemen keberlangsungan keluarga sebagaimana mestinya,
bukan tidak mungkin jika keluarga yang kita sayangi akan merasakan kondisi yang
sangat menyebalkan tersebut. Untuk itu mungkin dalam sebuah keluarga kepala
dingin sangat dibutuhkan untuk menekan ego masing-masing ketika dihadapakan
pada permalahan keluarga yang serius. Baik masalah himpitan ekonomi,
perselingkuhan dan juga masalah-masalah serius lainnya. Perpisahan memang
menjadi jalan keluar, namun bukan menjadi satu-satunya jalan keluar. Bukankah
selama anggota keluarga mau berusaha untuk saling memperbaiki dan memaafkan,
segala masalah pasti mampu diselesaikan?
Karena sangat kurangnya riset, saya akui bahwa
terjadinya broken home kadang tidak
sesederhana itu. Namun mungkin lewat tulisan ini para pembaca mampu sedikit
menyadari bahwa broken home memiliki
dampak yang sangat besar bagi berjalannya sebuah keluarga. Bukan dampak positif
yang diterima, melainkan lebih ke arah dampak-dampak yang bersifat negatif. Untuk
itu dari pembahasan yang ala kadarnya ini, saya berharap para pembaca mampu
mengembangkannya menjadi tulisan yang lebih utuh. Agar dapat memotivasi orang
lain untuk lebih memperhatikan dan menjaga keluarganya masing-masing.
Komentar
Posting Komentar