Langsung ke konten utama

Penunggu Rumah (Cerita Horor)




Kisah kali ini lebih aku fokuskan pada kejadian-kejadian ganjil di rumah kakak pertamaku. Sebelum jauh membahasnya, aku akan menyebutkan fakta-fakta lahan yang akan didirikan bangunan oleh kakakku ini. Pertama, lahan dimana rumah kakakku berdiri terletak dikampung paling belakang yang langsung berbatasan dengan tegalan (sawah kering); kedua, dilahan ini dulu hanya berdiri satu rumah saja, yakni rumah milik Bapak Yit dan keluarga; ketiga, di lahan ini dulunya beberapa kali dipakai sebagai kuburan bayi dari ibu-ibu yang keguguran. Karena beberapa kondisi itu, lahan yang selanjutnya akan didirikan rumah oleh kakakku ini memiliki harga yang lebih murah dibandingkan dengan lahan-lahan lainnya. Harga murah ini yang kemudian menjadi alasan utama kenapa kakakku dulu membelinya. 

Sekitar tahun 2008, rumah kakakku ini mulai dibangun. Dari proses pembangunan, sudah ada beberapa kejadian-kejadian ganjil yang harus dihadapi oleh beberapa anggota keluarga, khususnya adik dan Almarhum bapakku. Saat itu pukul 19.00 sesaat setelah waktu salat isya. Seperti biasa kami anggota keluarga berkumpul di ruang tengah, rumah orangtua ku. Disitu ada aku, kakak pertama, bapak dan ibuk. Tidak seperti biasa ayahku memulai pembicaraan duluan, 

"ndok, awakmu yakin a ate ngedekno omah ndk kono"
(nduk, kamu yakin ta mau mendirikan rumah ditanah situ)
"opok o toh pak emange?" (kenapa sih pak emangnya)  jawab kakak pertamaku
"oraa, kok aku ngeroso ndk lahan seng arep kok dekno omah iku rodok gak beres" (enggak, kok aku ngerasa di lahan yang mau kamu dirikan rumah itu sedikit tidak beres) 
"gak beres yokpo toh pak?, ojok meden-medeni" (gak beres gimana sih pak?, jangan menakuti-nakuti) kakakku tanya dengan muka penasaran namun sedikit takut
"maeng bengi iku aku arep ndilok botomu, moro-moro mambu lebus oraa enak" (kemarin malam aku ingin lihat batu batamu, tiba-tiba ada bau lebus (bau yang menyerupai bau keringat yang menyengat)  tidak enak" jawab bapakku

Bapakku berhenti sejenak seperti mengingat-ingat kejadian yang menimpanya kemarin malam, lalu meneruskan ceritanya

"awal e tak jarno, gak tak reken, babah nerusno ngecek botomu, langsong ngerti awakmu klengkeng ndk sandinge adah e kayu pengger kulon iku, koyok onok seng numpak i, ndk hoyak banter, tak cidek i tak senteri, kok tambah banter hoyak e" (awal e aku biarin, gak aku peduliin, biarin meneruskan cek batubatamu, langsung ngerti kamu pohon klengkleng di samping tempatnya kayu sisi barat itu, seperti ada yang naiki, di gerak-gerakkan keras, aku deketin aku senterin, kok tambah keras geraknya) 
"ndk hoyak yokpo seh pak?" (di gerak-gerakin gimana sih pak?) sahut ibuk sambil mendekat ke samping bapak
"dadi koyok kenek angen ngono, mek seng hoyak iku wit klengkeng iku tok, krasak krasak krasak" (jadi seperti kena angin gitu, tapi yang gerak cuma pohon itu saja, krasak krasak krasak)  bapakku meyakinkan 

Yang aku ingat, adalah wajah bapakku saat itu. Beliau bercerita dengan wajah yang serius dan menyarankan agar kakak membatalkan membangun rumah di lahan tersebut. Namun apadaya tekad kakak sudah bulat, mengingat banyak sekali keringat yang diperas untuk mencari dana guna membangun rumah ini, kakak bersikeras untuk tetap melanjutkannya. Tentunya dengan harapan, semoga kondisi lahan kedepan akan  berangsur-angsur semakin baik. 

Akan tetapi harapan hanya menjadi harapan, setelah pondasi dibangun dan batu bata mulai disusun. Kejadian aneh tak kunjung pergi, saat aku, adekku bapakku dan seorang tetangga ingin bermalam dirumah yang baru kelihatan bentuk dindingnya ini, ada hal tidak bisa dinalar dan menjijikan kami alami. Sebelum kejadian kami sudah menata tempat kayu untuk membuat api unggun, akupun sangat yakin tempat disekitar kayu-kayu yang kami susun ini benar-benar bersih. Bahkan setelah api unggun menyala, tanah disekitar api unggun benar-benar tidak ada apa-apa. Kemudian bapak dan seorang tetangga ini berbincang, aku tak tau apa obrolan mereka. Saat itu aku hanya memperhatikan adikku yang terus menerus memandangi api unggun. Ada yang janggal dari pandangannya, saat itu adekku memiliki pandangan seperti mengawasi sesuatu. Aku tanya

"dek onok opo?" (dek ada apa) 
"ganok popo mas, mek aku maeng ndilok anu... " (gak ada apa-apa mas, cuma aku tadi liat anu.. 

Tiba-tiba wusss tercium bau yang sangat busuk. Mungkin jika diuraikan baunya itu seperti wc yang sering dipakai, tapi tidak pernah dibersihkan. Setelah kami mencium bau busuk ini lantas kami mencari sumbernya darimana. Saat inilah tetanggaku nyeplos

"cok taekk, onok taek" (cok tai, ada tai) 
"ndk ndi?" (dimana?) bapakku menyahut
"iku ndk sandinge papan obong-obong" (itu didekat tempat bakar-bakar/api unggun) 
"tekok endi iku maeng, padalan maeng koyokan gak onok, tak golekno cikrak sek, ndang tak guwak e" (darimana datangnya itu tadi, padahal tadi sepertinya tidak ada, tak carikan cikrak dulu, segera aku buang)

Tidak tahu datangnya darimana tiba-tiba ada tai manusia di dekat api unggun. Kalau pun sudah ada daritadi kami akan melihat dan menciumnya waktu menata kayu tadi. Sewaktu api unggun sudah terbakarpun kami juga tidak melihatnya. Kemudian aku teringat ada kalimat yang adekku belum lanjutkan. Lantas disini aku menanyakan ulang,

"maeng ndilok opo dek, anu opo?" (tadi lihat apa dek, anu apa?)
"maeng pas bapak omong-omongan aku ndilok tangan mas ndk cidek e geni" (tadi waktu bapak ngobrol aku lihat tangan mas di dekat api) 
"seng genah awakmu dek, tangan yokpo?" (yang bener kamu dek, tangan gimana) 
"iyo mas maeng aku ndilok tangan rusuh, koyok tangan e mbah-mbah, ndeleh lemah ndk cidek e api unggun kunu" (iya mas aku tadi lihat tangan kotor, seperti punya kakek-kakek naruh tanah di dekat api unggun situ)

Antara percaya dan tidak dengan penjelasan adekku. Namun yang pasti, tiba-tiba ada tai manusia didekat api unggun. Jika yang adekku lihat memang benar-benar nyata, jadi tangan kakek-kakek yang entah milik siapa tersebut tidak manaruh tanah seperti yang adekku jelaskan. Akan tetapi yang dia taruh adalah tai manusia yang baunya sangat busuk itu. Inilah yang membuat ku mengajak bapak buat cepat-cepat pulang kerumah, dengan umurku yang masih 12 tahun siapa yang tidak takut merasakan hal ganjil semacam itu. Pikirku kalau benar-benar tadi adekku tidak bohong, jadi benar yang dikatakan bapak beberapa waktu yang lalu. Lahan yang dibeli oleh kakak ini memang benar-benar tidak beres. 

*****

Berjarak sekitar satu tahun kemudian, setelah rumah kakakku sudah berdiri kokoh. Rumah ini menjadi rumah yang berhawa horor (bahasa jawa : singup) buat ditinggali. Apalagi ditambah dengan kondisi rumah yang sering ditinggal oleh kakak dan suaminya bekerja diluar kota, jadi seringkali rumah ini kosong. Bapakku kadang-kadang saja tidur dirumah ini, kalau gak, aku dan adekku yang tidur disini. Dengan syarat aku harus diperbolehkan mengajak teman-teman desaku buat tidur bersama disini. Saat rumah sudah berdiri kokoh, kejadian yang tidak masuk logika bukan sudah berhenti, namun terus berlanjut. Seperti saat aku, adek dan teman-temanku tidur disini.

Malam itu aku bersama seorang teman, sedang asyik main PS. Karena asyiknya kami tidak sadar kalau jam sudah munjukkan pukul 1 pagi. Adek dan teman-temanku sudah tidur semua, ada yang diruang tengah, ada juga yang tidur dikamar depan yang biasa aku tiduri bersama adekku. Hanya tinggal aku dan seorang teman yang terus terjaga. 

"pes gak turu a?" (pes gak tidur a)  tanya seorang teman
"sek sak permainan iki ae langsung turu" (bentar satu permainan ini saja langsung tidur) jawabku

Saat asyik bermain dari arah depan rumah terdengar suara yang kira-kira begini "sreekk, srekk" suaranya seperti orang menyeret daun kelapa kering. Awalnya tidak aku pedulikan, namun suara itu terdengar lagi "srekk, srekkk, srekk" .

"pes suara ne opo iku?" (pes suaranya apa itu?) tanya temanku sedikit cemas
"mboh suarane opo, jarno wes mariki ndang turu" (tidak tahu suaranya apa, biarin wes sebentar lagi kita cepat tidur) 
"seng gena awakmu guduk maleng a kiro" (yang bener kamu, bukan maling a kira-kira) 
"guduk jarno wes mariki yo ilang-ilang dewe suarane" (bukan biarin wes habis ini ya hilang-hilang sendiri suaranya) 

Aku menjawab demikian karena aku tahu itu mungkin bukan orang. Mengingat sudah sering sekali kejadian-kejadian ganjil dirumah ini. Semakin membuat merinding ketika suara tadi tiba-tiba muncul kembali. "srekk, srekk, srekk". Aku dan temenku hanya saling pandang. Belum juga lama suaranya semakin kencang "srekkkk, srekkk, srekkk" seperti suara itu berasal pas di depan pintu. Akhinya karena tak kunjung hilang kami memberanikan diri untuk mengeceknya, dengan menengok lewat jendela. Dengan perasaan was-was, kami pun membuka tirai pelan-pelan dan menengok kearah depan rumah lewat jendela ruang tamu. Kami tengok kanan-kiri lewat jendela, lalu menutup tirainya. Kami buka pelan-pelan lagi tirainya, tengok lagi keadaan sekitar dan "uwaaaahhh," kami berteriak dan loncat seketika. Karena seekor kucing tiba-tiba lompat dari atap ke pagar depan rumah. Namun seperti yang aku duga sebelumnya, tidak ada apa-apa lagi, selain seekor kucing, bahkan suara yang kami dengar pun tiba-tiba menghilang. Mungkin itu adalah cara mereka menunjukkan eksistensinya. 

Setelah kejadian ini aku lantas mengurungkan niatku untuk menjaga rumah kakak pertamaku ini. Hampir bebepara hari aku tidak ke rumah ini, ya karena takut akan terjadi hal-hal mistis lainnya. Beberapa minggu kemudian, pikiran negatif tentang rumah kakak mulai menghilang di kepalaku. Sampai pada suatu sore menjelang magrib, aku ingat ada beberapa tugas sekolah yang mesti diselesaikan. Karena pada saat itu rumah orang tua sedang ramai, karena mau ada tahlilan rutin kampung. Akhirnya aku memutuskan untuk mengerjakan semua tugasku di rumah kakak, agar bisa fokus dan cepat menyelesaikan tugas-tugas sekolah. 

Sesampainya dirumah kakak seperti biasa, rumah ini selalu sepi tak ada suara apapun, sunyi sekali. Kondisi inilah yang kemudian membuatku bisa fokus mengerjakan segala tugas. Aku mulai mengerjakan tugas, dan sampai adzan magrib terdengar aku masih meneruskan mengerjakan tugas. Setelah adzan magrib ini, tidak ada angin tidak ada apa, tiba-tiba sapu lidi yang tersandar di samping lemari kamar depan tiba-tiba saja jatuh "kresek". Aku cuma melihatnya, namun hal ini cukup merusak fokusku. Sebelum meneruskan belajar, aku mendirikan dan sandarkan lagi sapu lidi tersebut ke samping lemari. Lantas aku kembali mengerjakan tugasku yang masih lumayan banyak. Beberapa menit kemudian sapu lidi itu entah kenapa tiba-tiba jatuh lagi, namun kali ini jatuhnya agak keras seperti ada yang mendorong "krussseekkk". Aku langsung berdiri dan meninggalkan semua buku tugas di rumah ini, lalu aku memanggil adikku yang berada dirumah orang tua. Btw jarak rumah kakak dengan rumah orang tua hanya sekitar 150 meteran. 

"dek ayok kancanono aku sinau ndk omah etan" (dek ayuk temenin aku belajar di rumah timur/ rumah kakak) 
"duh kuecek, sinau o dewe loh mas" (duh penakut, belajar o sendiri aja loh mas) 
"ayok dek aku gak wani" (ayuk dek aku gak berani) 

Karena aku memaksa adekku kemudian bersedia menemaniku mengerjakan tugas. Yaa tanpa aku kasih tau kejadian ganjil yang habis menimpaku sih. Sebenernya aku sudah tidak ada niatan lagi meneruskan mengerjakan tugas di rumah tersebut. Aku minta temenin dengan tujuan ingin mengambil buku tugas dan segala alat tulis yang aku tinggalkan disana. Setelah kembali ke rumah kakak, aku memperbaiki lagi posisi sapu lidi yang jatuh tersebut. Bodohnya aku nyeletuk tiba-tiba cerita ke adekku sebelum membereskan buku-buku dan alat tulisku. 

"anu dek iki maeng sapu ne roboh wes peng pindo" (anu dek ini tadi sapunya udah jatuh dua kali) 
"mesti samean meden-medeni" (kamu selalu saja nakut-nakutin) 
"iyo dek ancen roboh wes peng pindo, mulakne aku njaok kancani awakmu nang kene" (iya dek memang udah roboh dua kali, mangkanya aku minta temenin kamu kesini) 
"ayok wes mas nng kulon maneh, lek sapune roboh peng telu berarti onok" (ayuk wes mas ke barat (kembali ke rumah orang tua)  lagi, kalau sapunya jatuh sampai 3 kali berarti ada)
"onok opo dek?" (ada apa dek) aku bertanya sambil membereskan buku dan alat tulisku

Tiba-tiba saja hal yang kami bicarakan benar-benar terjadi. Sapu lidi yang barusan saja aku benerin posisinya di samping lemari, tiba-tiba jatuh lagi. "krusekk" woh sumpah aku sama adekku saat itu lari terbirit-birit. Lagi-lagi alat tulis dan buku ku tidak aku bawa dan tertinggal dirumah ini, lantas aku memanggil bapakku dan menceritakan semuanya. Aneh bapakku dan orang-orang rumah yang mendengarkan ceritaku ini hanya tersenyum, seperti memaklumi kejadian ini. Bersama dengan bapak, akhirnya aku berhasil mengambil kembali perlengkapan yang tertinggal dirumah kakakku ini. 

*****

Beberapa tahun kemudian, setelah kedua orang tua ku harus dipanggil oleh sang pencipta. Rumah milik orang tua ku kami putuskan untuk dikontrakan. Aku dan adek kemudian menetap di rumah miliki kakak yang agak horor ini. Untungnya kakak yang awalnya sering bekerja di luar kota, harus rela untuk sementara meninggalkan pekerjaannya, karena lebih memilih fokus merawat aku dan adekku. Karena aku akhirnya menetap disini, aku harus memakai kamar yang ada di lantai atas. Awalnya kamar tersebut difungsikan menjadi gudang. Bagaimana lagi aku dan adek-adekku harus berbagi tempat tidur, sedangkan dirumah ini hanya ada 3 kamar. 2 kamar dibawah, 1 dipakai kakak bersama suami dan 1 kamar dipakai adekku. Sedangkan 1 kamar diatas aku pakai. 

Sedikit menjelaskan bahwa kamar lantai atas ini tidak berada didalam ruangan, namun berada ditempat terbuka, jadi di depan kamar ini langsung halaman teras yang tidak beratap, dan teras ini dibatasi oleh pagar yang tingginya 1 meter. Untuk ke lantai atas harus naik tangga yang berada di dapur, antara dapur dan lantai atas dibatasi oleh pintu pagar besi. Bisa dibilang selama tidur dikamar atas ini, aku tidak pernah merasakan hal-hal yang ganjil. Akan tetapi berbeda dengan pengalaman adekku. Jadi pada suatu malam, adekku aku suruh untuk tidur dikamar atas ini. Lupa pada waktu itu aku ada acara apa, yang jelas karena aku khawatir dengan hal-hal yang tidak diinginkan. Akhirnya aku menyuruh adekku untuk sementara waktu menjaga kamar di lantai atas ini. Adekku lantas mengiyakannya. Memang hal-hal ganjil yang tidak bisa dinalar selalu saja datang tanpa diketahui. Malam itu adekku bersiap untuk tidur, dia bercerita kira-kira seperti ini

"mas maeng bengi aku onok seng ganggu, tak kiro samean ternyata guduk" (mas kemarin malem aku ada yang mengganggu, aku kira kamu ternyata bukan) 
"sopo dek, diganggu yokpo?" (siapa dek, diganggu gimana?) 
"aku kan ate turu, langsung wes merem sediluk, lah di trap-trap an iku onok suarane wong mlaku "dug, dug, dug" mlaku tekok nisor mendukur langsung mbukak lawang kere, "krekkkkk" awal e tak kiro iku samean mbalek moleh gak sido nginep ndk koncone samean" (aku kan mau tidur, langsung sudah memejamkan mata sebentwr, lah ditangga itu asa suaranta orang berjalan, "dug, dug, dug" berjalan dari bawah keatas lalu buka pintu pagar, "kreeekkkk" awalnya aku kira kamu balik pulang gak jadi tidur rumah e temenmu)
"teruss?" aku bertanya dan fokus mendengarkan
"batenku kok samean gak melbu-melbu kamar, tak kiro sek lapo ndk ngarep, akhire tak dilok kan, padalan aku krungu jelas onok wong mlaku ambek mbukak lawang, kok seto tak cek iku lawang kere ne sek tutupan ndk nisor (ruang dapur) yo sepi ganok sopo-sopo" (pikirku kok kamu gak masuk-masuk kamar, aku kira masih ngapain di depan, akhirnya aku liat kan, padahal aku dengar jelas ada orang berjalan dan buka pintu, kok setelah aku cek itu, pintu pagarnya masih tutupan di bawah juga sepi tidak ada siapa-siapa) 

Setelah itu adekku bercerita bahwa dia langsung lari kebawah, membangunkan kakak dan suaminya, dengan alasan kalau ada maling, lalu mereka bertiga mengecek seluruh ruangan, dan benar saja memang tidak ada siapa-siapa. Lalu yang berjalan dan buka pintu pagar atas tadi siapa? Aku serahkan kepada pembaca untuk memikirkan siapa sosok tersebut. 

Dalam rangkaian kejadian pastilah ada kejadian puncak yang mungkin tidak akan pernah bisa terlupakan. Setelah rentetan kejadian ganjil diatas, tibalah pada suatu malam ketika adekku dan teman-temannya nongkrong di rumah kakak ku ini. Saat itu rumah sedang ditinggal berkunjung oleh aku, kakak dan suaminya ke bondowoso sekitar 6 harian. Karena adekku tidak mau ikut, akhirnya dia sendiri memutuskan menjaga rumah untuk sementara waktu. Tepat dihari jumat malam sabtu, seperti malam-malam sebelumnya dia mengajak teman-temannya menginap dirumah kakakku ini.

Dia menjelaskan sekitar jam setengah 12 an, dia kebelet buang air kecil. Entah apa yang dia pikirkan, dia buang air kecil tidak ditoilet melainkan di depan rumah sisi sebelah selatan. Setelah dia buang air kecil, dia langsung balik arah menghadap ke pagar sebelah utara. Saat dia balik arah inilah, dia melihat ada leher dan kepala perempuan nongol dipagar sebelah utara. Rambutnya kusam agak panjang, rambut depannya menutupi sebagian wajah sampai dibawah mata, mukanya keriput kecoklatan. Sosok ini hanya terlihat leher dan kepalanya saja, sedangkan badannya tidak kelihatan. Selama semenitan adekku hanya tertegun melihat sosok ini, saat melihatnya tiba-tiba dia tidak bisa bergerak, tidak bisa teriak. Semakin dilihat sosok ini kemudian melenggak-lenggokan kepalanya kekanan dan kekiri beberapa kali, seperti seekor ular katanya. Adekku baru bisa bergerak  setelah dia membaca doa-doa yang ada dikepalanya, doa apapun yang bisa dia baca. Setelah itu dia langsung lari secepat mungkin kedalam rumah menemui teman-temannya sambil teriak-teriak "opo iku maeng, opo iku maeng" (apa itu tadi, apa itu tadi). Teman-temannua kaget dan langsung menenangkannya. Memang malam yang benar-benar sial untuknya. Btw jujur saat aku menulis kisah ini lagi-lagi suasana disekitarku tiba-tiba berubah, hawanya berubah jadi enggak enak sekale hehehe untuk itu kisah ini aku cukupkan sampai disini. Maaf jika endingnya gantung. 

Yang jelas pada akhirnya karena beberapa hal, salah satunya karena rentetan kejadian mistis tersebut, rumah kakakku ini pertengahan tahun 2016 lalu diputuskan untuk dijual. Dan untuk sekarang  kondisi lingkungan sekitar dirumah ini sudah tidak sehoror dulu. Sudah ada 5 rumah baru yang sudah berdiri disekitaran rumah. Dan jalan menuju kesini juga agak diperlebar dan diberi penerangan. Jadi sudah enggak sehoror dan sesepi dulu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mereka Mengawasi (Cerita Horor)

Kejadian ini terjadi sekitar tahun 2010, saat aku masih duduk di kelas dua Sekolah Menengah Pertama. Mungkin seperti anak-anak SMP pada umumnya, pada usia ini aku masih sering sekali keluar malam, hanya untuk sekedar nongkrong bersama teman-teman di desa. Lupa pada waktu itu ada tujuan apa, namun yang aku ingat jelas tiba-tiba salah seorang teman mengajak untuk pergi berkemah di salah satu lahan sawah atau tegalan pada wilayah desaku. Malam itu ada aku dan 4 orang temanku namanya aku samarkan yakni menjadi Angga, Mas Wijaya, Alfin, & Yudi. Obrolan dimulai oleh Yudi. “rek gak kepingin kemah a ndk ganjaran?, iku loh ndk tegalane bapakku” (rek tidak ingin kemah di ganjaran, itu loh di tegalan milik ayahku) “kapan Yud?” Mas Wijaya menyahut dengan penasaran “arek-arek isone kapan? lek aku seh saran malem minggu mene iki, mompong mene ne preian” (teman-teman bisanya kapan, kalau aku saran malem minggu besok ini, mumpung besoknya kita libur) “yokpo rek isok gak awakmu?” (gim...

Wanita dan Kontrasepsi

Wanita dan Kontrasepsi Oleh : Wahyu Setiawan Deskripsi : Foto E.S. seorang ibu yang memiliki dua orang anak, waktu hamil anak kedua beliau disalahkan oleh sang suami karena tidak mengikuti program KB (foto penulis, 23 Oktober 2018) Sebagai sebuah negara, Indonesia masih memiliki banyak permasalahan yang mesti diselesaikan. Salah satu permasalahan yang ada adalah masalah kepadatan penduduk, sebagai akibat dari membludaknya angka kelahiran. Berdasarkan data BKKBN (2007 dalam Prabowo & Sari, 2011) jumlah penduduk Indonesia sekitar 224,9 juta jiwa dan menempati posisi ke-4 setelah Cina, India dan Amerika Serikat sebagai negara yang memiliki penduduk terpadat di dunia. Salah satu upaya pemerintah untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan diadakannya program KB (Keluarga Berencana) bagi seluruh keluarga yang ada di Indonesia. Fokus dari program ini adalah mengontrol jumlah kelahiran dalam satu keluarga, sehingga tercapai jumlah k...