Langsung ke konten utama

Tentang Kita Berdua

Istriku tulisan ini mungkin akan sedikit panjang untuk di baca, namun semoga kamu menikmati setiap kata dari baris aksara yang ku-susun malam ini. Tulisan ini ada setelah aku mendengar sebuah lagu. Saat mendengarnya, entah kenapa tiba-tiba langsung terbesit di pikiranku tentang semua hari yang sudah kita lewati.

Tidak tahu pasti apa arti semua lirik itu, namun ada sebuah lirik yang paling kuingat “I see trees of green, red roses to, I see them bloom for me and you” (aku melihat pepohonan yang hijau, mawar merah juga, aku melihat mereka merekah untukku dan untukmu).

Seperti saat ini, aku ingin setiap insan yang berada di sekitar kita bisa merasakan dan mendoakan kebahagiaan kita. Istriku, apa kamu ingat sosokku beberapa tahun lalu, lelaki yang mungkin sama sekali tidak kamu kenal, asing, dan seakan tidak bisa engkau jangkau.

Namun kamu perlu tahu, dulu pun di mataku engkau demikian. Wanita asing, tak ku-kenal ,dan  tanpa sedikit pun komunikasi terjalin antara kita. Tapi yang sampai kini kuingat, kamu adalah sosok periang, bisa bergabung dengan orang-orang di sekitarmu dengan begitu mudahnya.

Berbeda dengan diriku dulu, cupu, tidak bisa komunikasi, dan takut untuk memulai sebuah obrolan. Tetapi sekarang aku bersyukur, semesta mempertemukan kita dengan pribadi yang bisa saling membersamai, melengkapi, dan saling menguatkan.

Kembali ke beberapa bulan menjelang pernikahan, kita berdua harus dihadapkan akan dua pilihan sulit tentang pernikahan. Ada ragu, ada rasa tak percaya, sedih, dan ada takut yang sama-sama tidak bisa terbendung. Saat itu keyakinan kita cuma satu, jika ada niat baik, pasti akan baik pula hasilnya.

Sepasang Suami Istri

Setelah itu sungguh tidak terasa, hari-hari indah sebagai sepasang suami istri sudah kita lewati hampir satu tahun lamanya. Artinya Nia, istriku tercinta, semua niat baik, Insya Allah telah berbuah baik pula. Rezeki yang lancar, masalah yang bisa kita atasi bersama, tantangan yang bisa kita selesaikan, beban yang bisa kita bagi, dan semua berbuah rasa syukur yang bisa kita nikmati kini setiap hari.

Sungguh banyak kisah yang selalu ingin aku ceritakan, banyak petualangan yang ingin aku bagi denganmu. Tetapi aku urungkan itu semua, kisahku tak penting, perjalananku sudah lebih dari cukup untuk aku ceritakan.

Kamu tahu apa yang terpenting? Tidak lain adalah dirimu, calon buah hatiku yang kini sedang kamu jaga dalam perutmu, dan sebuah kisah yang saat ini sedang berusaha kita rangkai, agar bisa kita ceritakan kelak di hari tua.

Tuhan terimakasih, terimakasih sudah menghadirkan wanita yang mampu merawatkan dengan sangat baik setelah ibuku, terimakasih sudah menghadirkan keluarga hangat, sehangat saat ketika keluargaku masih lengkap. Sebab itu Tuhan, jika bisa, sampaikan pesan untuk kedua orang tua di sana bahwa kini anak ingusan-nya sudah besar dan bahagia dengan wanita yang amat tulus menyayanginya.

“Senyummu adalah lukisan terindah dari dunia untukku. Sikap seperti embun, yang sejuk di awal pagi. Sorot mata warna-warni, ibarat cat yang digoreskan dalam kanvas lukis. Tak cukup, caramu memperlakukanku selembut kain sutra. Kamu adalah Nia, sosok istri tercinta” (Suamimu, Wahyu Setiawan).

Malam ini aku banyak berpikir, berpikir tantang masa depan, berpikir tentang akan jadi seperti apa keluarga kecilku kelak, melihat sosokmu yang sedang tiduran memakai daster berwarna biru, dan HP kesayangan ditangan, entah kenapa aku berasa mampu dan memiliki kekuatan untuk melewati apa pun yang ada di depan sana.

Dengan aku yang kini sedang memangku laptop ini, juga sedang berkhayal tentang apa yang kamu pikirkan, apa kamu berpikir “mas sedang nulis apa? Serius banget” hehehe mungkin itu yang kamu pikirkan. Tenang tidak menulis aneh-aneh, aku hanya ingin sedikit menambahkan beberapa hal lagi tentang kasih sayang dan cinta.

Apa itu cinta? Apa itu kasih sayang?

Seperti obrolan kita di satu malam, sayang dan cinta menurutku hanya bisa dideskripsikan lewat proses hidup setelah perkawinan. Semua orang butuh cinta, semua orang butuh kasih sayang, tapi cinta dan kasih harus dirawat dengan perkawinan.

Sebuah cinta dan kasih yang tidak dirawat, hanya akan menjadi nafsu dan titik yang tidak jelas. Sebab itu, puluhan tahun pencarianku tentang cinta dan kasih sayang, baru bisa kutemukan dengan dirimu istriku.

Bersamamu, aku paham bahwa cinta dan kasih sayang adalah bentuk suci dari sebuah hubungan manusia. Cinta dan kasih memang harus menjadi sebuah hal yang menyenangkan dan bahagia. Tapi bukan menyenangkan dan bahagia dalam arti praktis, mengingat dua hal ini harus diperoleh dengan perjuangan antar sesama.

Oleh karena itu, jika kita berbicara kasih sayang dan cinta, maka perlu digaris bawahi, bahwa berjuang itu pasti, saling menjaga itu wajib, dan suka, senang, bahagia adalah hasil atau bonus dari itu semua.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mereka Mengawasi (Cerita Horor)

Kejadian ini terjadi sekitar tahun 2010, saat aku masih duduk di kelas dua Sekolah Menengah Pertama. Mungkin seperti anak-anak SMP pada umumnya, pada usia ini aku masih sering sekali keluar malam, hanya untuk sekedar nongkrong bersama teman-teman di desa. Lupa pada waktu itu ada tujuan apa, namun yang aku ingat jelas tiba-tiba salah seorang teman mengajak untuk pergi berkemah di salah satu lahan sawah atau tegalan pada wilayah desaku. Malam itu ada aku dan 4 orang temanku namanya aku samarkan yakni menjadi Angga, Mas Wijaya, Alfin, & Yudi. Obrolan dimulai oleh Yudi. “rek gak kepingin kemah a ndk ganjaran?, iku loh ndk tegalane bapakku” (rek tidak ingin kemah di ganjaran, itu loh di tegalan milik ayahku) “kapan Yud?” Mas Wijaya menyahut dengan penasaran “arek-arek isone kapan? lek aku seh saran malem minggu mene iki, mompong mene ne preian” (teman-teman bisanya kapan, kalau aku saran malem minggu besok ini, mumpung besoknya kita libur) “yokpo rek isok gak awakmu?” (gim...

Wanita dan Kontrasepsi

Wanita dan Kontrasepsi Oleh : Wahyu Setiawan Deskripsi : Foto E.S. seorang ibu yang memiliki dua orang anak, waktu hamil anak kedua beliau disalahkan oleh sang suami karena tidak mengikuti program KB (foto penulis, 23 Oktober 2018) Sebagai sebuah negara, Indonesia masih memiliki banyak permasalahan yang mesti diselesaikan. Salah satu permasalahan yang ada adalah masalah kepadatan penduduk, sebagai akibat dari membludaknya angka kelahiran. Berdasarkan data BKKBN (2007 dalam Prabowo & Sari, 2011) jumlah penduduk Indonesia sekitar 224,9 juta jiwa dan menempati posisi ke-4 setelah Cina, India dan Amerika Serikat sebagai negara yang memiliki penduduk terpadat di dunia. Salah satu upaya pemerintah untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan diadakannya program KB (Keluarga Berencana) bagi seluruh keluarga yang ada di Indonesia. Fokus dari program ini adalah mengontrol jumlah kelahiran dalam satu keluarga, sehingga tercapai jumlah k...